Artikel ini lagi-lagi ditolak oleh Mojokdotco
Katanya seiring berjalannya waktu, teman kita jadi
makin dikit, teman kita lebih mementingkan teman barunya, pekerjaannya, gak
sesuai sama janji yang telah dibuat waktu jaman-jaman SMA, yang bakal ketemuan
terus pas liburan, yang bakal liburan bareng, dan pasti akan berjumpa kalau
udah sukses nanti.
Tapi
kenapa makin kesini makin terasa sepi ya hidupku? Baru aja kemarin ketawa lepas
bareng teman-teman, tapi hari ini malah dingin banget suasananya. Sampai
akhirnya terpikirlah beberapa pertanyaan-pertanyaan yang menghinggapi pikiran-pikiran
anak-anak milenial yang baru memasuki dunia yang sebenarnya versi Beta.
Makin kesini kok teman-temanku makin dikit, ya?
Mereka ini bener-bener temenku gak, sih?
Mereka kok datangnya pas lagi butuh doang, ya?
Ah, duniaku dengan dunia mereka udah berbeda.
Setelah berlalu lalang di dunia Misqueen, Twitter. Ada
satu tweet yang menceritakan tentang struggle di usia 20 tahun. Dan ternyata
banyak sekali orang yang merasakan hal yang sama. Terakhir kulihat ada 14ribu retweet dan 15ribu likes di satu tweet itu.
Yang berarti ada sekitar 14ribu anak berumur 20 tahun keatas yang sedang
merasakan beban yang sama. Ini juga sama seperi teori spiral of silence yang dikemukakan oleh Neolle-Neumann, bahwa saat
kita memberi opini dan menyebar sampai kepenjuru dunia, orang yang tidak
memberi opini tapi merasakan hal yang sama akan mengamini opini tersebut,
bahasa kerennya sih Retweet.
Penelitian
para peneliti Komunikasi semakin bahagia sekarang, karena penelitian mereka
akhirnya berhasil terjadi pada generasi Z, sebuah teori komunikasi massa yang
saat ini sedang mengalami perkembangan yang besar pada abad ini. Mereka percaya
pada “peluru ajaib” teori pengaruh komunikasi. Anak jaman now (Individu)
diyakini sangat terpengaruh oleh pesan-pesan media karena media dianggap sangat
kuat dalam membentuk opini masyarakat. Intinya, karena opini yang ada di tweet itu, membuat 14ribu anak berusia
20 tahun keatas merasakan hal atau beban yang sama. Senasib sepenanggungan.
Untuk
teman-teman yang sudah kepala dua pasti bakal retweet tweet yang isinya struggle di usia 20 tahun, gimana harus
memikirkan ini, itu, sana, sini, karena ruang lingkup yang sudah berbeda
dibanding dulu. Ngerasain dunia kerja yang busuk, mengerti masalah keluarga
yang selama ini masih menjadi asumsi, dan lain-lain.
Aku sangat setuju
pendapat Akhmad Sudrajat tentang perkembangan manusia, karena tidak bisa
dipisahkan dari pertumbuhannya. Perkembangan itu bisa didefinisikan sebagai
perubahan yang sistematis, progresif, dan berkaitan satu sama lain dari awal
kita lahir sampai akhir hayatnya. Tidak bisa disalahkan, karena itu adalah
perkembangan manusia. Yang sangat amat wajar.
Setelah aku selidiki, ternyata ada 2 faktor yang mereka
rasakan, yang pertama ruang lingkup yang sudah berbeda atau biasa disebut
circle life, yang kedua itu mereka jadi ngerasa asing sendiri. Aku sendiri
ngerasain faktor-faktor itu.
Dewasa ini aku rasa pentingnya berbicara dengan orang yang
satu frekuensi dengan kita, kalau
tidak? Cut off aja. Gak enakan?
Terima, ambil yang perlu, buang yang gak perlu. Hubungan pertemanan yang toxic justru membuat kita jadi ribet
sendiri. Sebenarnya hal itu wajar aja terjadi, karena udah banyak juga penelitian
tentang perkembangan manusia. Jadi sebelum kalian ngerasain dan nge-tweet keresahan kalian, para ilmuan juga
udah ngerasain apa yang kalian rasain. Lul.
Pakde tukang urut di
seberang perumahanku sendiri bilang begini,
Diumur 20 tahun ini, cuk. Kamu harus bisa membangun mentalmu, jangan sampai kamu lemah karena mentalmu gak kuat, dari umur 20 sampai umur 30 tahun nanti, disitulah mentalmu akan di uji, mau itu dari masalah pendidikan, keluarga, bahkan percintaanmu, cuk. Nanti setelah umurmu diatas 30 tahun, barulah hasil pembentukan mentalmu akan di uji dengan ujian hidup yang sesungguhnya.
Gak cuma gagasan pakde
tukang urut kok yang membuatku yakin, ada penjelasan dari para ahli tentang
perkembangan manusia, yang membuat kita berpikir kalau ruang lingkup kita udah
beda dan ngerasa terasingkan sendiri itu karena perkembangan kita sendiri,
pembentukan mental kita, pilihan hidup kita sendiri. Karena kita udah masuk
tahap Dewasa Awal, kita lantas banyak memikirkan hal-hal yang dulu kita aja
enggan untuk memikirkannya.
Akupun sadar kalau aku ngerasa ruang lingkupku sudah
berbeda dari beberapa pengalaman yang sudah aku rasain sendiri, tentang
ekspektasi ku saat menghadiri reuni teman SMP, sampai memilih dengan siapa aja
aku bakal meet up dengan teman SMA ku
yang sedang libur kuliah dan pulang ke kampung halaman (aku yang jagain kampung
halaman kami).
Ekspektasi yang terpikir
saat menerima ajakan temanku untuk reuni dengan teman-teman SMP adalah,
Palingan bakal ngebahas waktu di jemur di depan tiang bendera satu kelas.
Ngebahas siapa cinlok dengan siapa.
Siapa yang paling sering masuk buku hitam di sekolah.
Masih ingat gak si H dulu pernah boker di celana loh! Udah SMP padahal!
Dan masih banyak lagi
yang membuatku enggan ikut reuni dan lebih memilih menyelesaikan pekerjaanku
saat itu. Karena mindset yang kuat
dan ekspektasi yang 1000% aku yakini bakal terjadi saat reuni. Jadi untuk apa
aku menghabiskan waktu untuk tertawa dengan cerita yang kudengar sama persis
saat aku reuni SMP tahun lalu.
Masa SMA adalah masa-masa yang membahagiakan, bukan? Tapi
semua akan kalah saat kita memasuki dunia perkuliahan. Memulai hal baru,
bertemu dengan teman baru, jadian dengan pacar baru, putus, dan berpisah dari
lingkungan yang dianggap toxic. Itu
adalah bahan cerita yang akan selalu diceritakan saat kumpul dengan teman SMA.
Kok bisa putus, sih sama si A? Kalian kan udah langgeng dari jaman SMA.
Eh, ini loh temen chat gue, udah 3 bulan kami chat dan gak putus-putus chat-nya! Kayaknya gu bakal jadian nih sama doi.
Ke engganan untuk memasuki lingkungan yang lama membuatku
merasa terasingkan karena sudah nyaman dengan lingkungan yang sempit dan
terawat ini. Lirik lagu fourtwenty yang mengajakku untuk keluar dari zona
nyaman tidak mempan untukku kali ini.
Akhirnya akupun paham, kita sedang mendewasakan diri kita
masing-masing untuk masa depan kita masing-masing. Membuat kita memilih sendiri
lingkungan yang ingin kita tinggali. Ada yang udah bekerja keras di usia 20
tahun, ada juga yang masih nyanyi keras-keras dan menggoyangkan kepala saat
lagu Solo nya si Jennie di mainkan di department store tempat dia belanja.
Semua tergantung lingkungan dan seberapa kuat mindset yang kita tanam dalam diri kita.
Sumber : https://www.kompasiana.com/issamrayhan/5c78ee9843322f2ecd44d05c/temanku-kok-makin-dikit-ya
Sumber foto : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiDi2c-oSMhLiXvru5vbU1-ePQ8PvDap66o4pYMr4pWyA1Q7mB-YlIz-TyKr1mpLOWtbxhyphenhyphenu0OK4ATZVsNnaKwil2wvOPBtZfW8VFsALRoXm-cNu8EPwp4N82l66ga93_iEkTSca89xpFo/s1600/6312828_20140428101156.jpg
Sumber : https://www.kompasiana.com/issamrayhan/5c78ee9843322f2ecd44d05c/temanku-kok-makin-dikit-ya
Sumber foto : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiDi2c-oSMhLiXvru5vbU1-ePQ8PvDap66o4pYMr4pWyA1Q7mB-YlIz-TyKr1mpLOWtbxhyphenhyphenu0OK4ATZVsNnaKwil2wvOPBtZfW8VFsALRoXm-cNu8EPwp4N82l66ga93_iEkTSca89xpFo/s1600/6312828_20140428101156.jpg

0 Komentar